|
EKONOMI - MAKRO
Senin, 06 Februari 2012 , 16:20:00
JAKARTA - Mengawali program kerja 2012, Menteri
Kelautan dan Perikanan Sharif Cicip Sutardjo banyak melakukan kunjungan
ke berbagai daerah. Mulai dari peninjauan lokasi industri sampai
penyerahan bantuan untuk merealisasikan industrialisasi perikanan yang
lebih ditekankan pada kepemimpinannya. Kawasan Timur Indonesia menjadi
bidikan utama untuk menghidupkan indutri perikanan tanah air.
"Seperti Sulawesi ini sangat luar biasa, potensi hasil laut dan untuk
membangun lokasi perindustrian sangat tepat. Begitu juga dengan
berbagai daerah lainnya, seperti Maluku. Kita bangga memiliki potensi
alam yang luar biasa, tugas kami untuk menjadikan potensi itu memiliki
nilai tambah untuk dimanfaatkan bagi kesejahteraan rakyat," kata Cicip
yang mengaku baru tiga bulan menjadi pengambil kebijakan di Kementerian
Kelautan dan Perikanan (KKP)tersebut.
Dalam kunjungannya seminggu terakhir ini, politisi Golkar itu
mengunjungi Mamuju, Sulawesi Barat dan menyerahkan Rp 21,5 miliar, lalu
ke Sulawesi Selatan, dengan menyerahkan sejumlah peralatan mendukung
industrialisasi dengan menyerahkan bantuan senilai Rp 23 miliar,
Sementara pada kunjungannya ke Maluku yang merupakan lumbung ikan
nasional mendapat bantuan Rp 32,2 miliar. Dari semua kunjungan dan
dukungan yang diberikan, industiralisasi perikanan menjadi tema.
Pasalnya, dewasa ini nilai tambah dari hasil laut dan budidaya Indonesia
belum menitikberatkan industri.
Cicip yang merupakan pengusaha melihat potensi mengembangkan industri
sebagai langkah cepat dalam mewujudkan kesejahteraan rakyat yang selama
ini terus dibawah garis kemiskinan. "Dalam kondisi cuaca buruk atau
tidak, industrialisasi tidak akan terganggu apabila konsep dan pola di
lapangan sudah seperti yang kami programkan. Sekarang ini kami tidak
bicara jangka pendeknya saja, tapi lebih ke jangka panjang, sehingga
masalah yang ada di nelayan itu bisa teratasi perlahan tapi pasti,"
ujarnya. (nel) |
0 komentar:
Posting Komentar